Oleh: Sherly Agustina, M.Ag, Pegiat literasi dan pemerhati kebijakan publik
Pemerintah menyatakan bahwa masih terjadi penularan yang menyebabkan kasus Covid-19 terus bertambah. Bahkan, penambahan pasien Covid-19 dalam sehari masih tinggi, data pemerintah pada Minggu pukul 12.00 WIB menunjukkan bahwa terdapat 3.992 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air kini berjumlah 303.498 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020 (Kompas.com, 4/10/20)
Apalagi Jatim salah satu kota yang kasus Covid-19 nya terus melonjak melampaui DKI Jakarta. Berdasarkan catatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, kasus kumulatif corona di provinsi ini mencapai 10.092. Dari jumlah itu 6.115 pasien masih dirawat, 753 pasien meninggal dunia dan 2.995 pasien lainnya dinyatakan sembuh (CNNIndonesia, 24/6/20).
Tentu hal ini menjadi catatan penting bagi pemerintah, bahkan gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pernah menyampaikan kepada pihak Kementerian Kesehatan untuk membedakan angka kematian akibat Covid-19 antara pasien yang menderita penyakit komorbid dan tidak. Karena dari data yang ada Jatim salah satu kota yang begitu melonjak dalam jumlah angka kasus covid-19. Staf Ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah penulisan angka kasus kematian akibat Covid-19.
Kemenkes hanya akan menambah detail pada definisi kasus kematian akibat Covid-19. Subuh pun mencontohkan salah satu kasus kematian akibat Covid-19 yang membutuhkan penambahan klasifikasi pelaporan kematian. “Misalnya orang dengan kecelakaan lalu lintas berat ternyata Covid-19 positif kemudian meninggal. Apakah dikategorikan sebagai kematian akibat Covid-19, tentu tidak. Tapi tetap dilaporkan sebagai Covid-19 postif karena penanganan jenazahnya berbeda.”
“Atau dengan kanker, atau serangan jantung dan lain-lain. Kriteria ini yang harus dibuat. Bukan merubah (definisi angka kematian) yang sudah ada. Tentu klasifikasi ini harus dibuat bersama (organisasi) profesi karena implementasi di lapangannya adalah para tanaga medis yang menilai hal tersebut,” ucap dia.
Polemik definisi kematian akibat Covid-19 atau karena faktor lain telah bergulir di masyarakat, melihat angka kematian dan kasus Covid-19 yang terus melonjak. Memang benar, harus ditelaah oleh para ahli apakah kematian seseorang murni karena faktor Covid-19 ataukah penyakit dan kasus bawan lain agar masyarakat tahu dan lebih jelas. Namun, hal ini tidak mengalihkan skala prioritas pemerintah dan tenaga medis dalam upaya memutus rantai pencegahan dan meminimalisir kasus Covid-19 baik yang meninggal ataupun tidak. Karena jika fakta apa adanya sudah dijelaskan oleh para ahli, tentu masyarakat akan menerima.
Pemerintah pun diharapkan tetap mengedepankan penyelesaian kasus Covid-19 sampai tuntas, dibanding terus berwacana bahwa tingkat kesembuhan Covid-19 mencapai 73,25 persen (news.okezone. 26/6/20). Khawatir membuat terlena sehingga teralihkan skala prioritas memberantas kasus Covid-19 hingga ke akar dan saat ini belum optimal dalam menciptakan vaksin. Ingat, sampai saat ini kasus Covid-19 sudah lebih dari 300.000 dan masih ada potensi meningkat. Belum diketahui juga entah sampai kapan wabah ini berakhir.
Sementara rakyat bagai makan buah simalakama, mungkin bagi kalangan menengah ke atas yang memiliki pekerjaan tetap atau usaha yang sudah stabil tidak terlalu terguncang menghadapi krisis dan jika harus tes swab. Masih bisa melanjutkan kehidupan, ada uang untuk bayar tes swab dan menafkahi keluarganya. Berbanding terbalik bagi kalangan menengah ke bawah, mereka di PHK, pengangguran, tak memiliki pekerjaan bingung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diri dan keluarganya. Apalagi jika harus tes swab misalnya mereka bertemu dengan OTG, dengan harga tes hampir 1 juta.
Solusi pun bukan hanya sebatas pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak lalu beraktifitas seperti biasa di luar rumah, jika ternyata bertemu OTG bagaimana. Lebih utama memutus rantai penularan, memisahkan orang sakit dan sehat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Mengisolasi daerah wabah atau red zone, menanganinya dengan cepat dan tepat, memenuhi kebutuhan rakyat yang terdampak. Melakukan tes swab untuk mengetahui mana yang positif dan tidak, jika rakyat tak mampu digratiskan atau dipermudah. Memang bukan hanya tugas pemerintah tapi semua elemen masyarakat karena ini masalah bersama maka butuh kerja sama yang baik, komunikasi dan sosialisasi yang optimal.
Dalam Islam, mengurus rakyat adalah amanah dan tanggung jawab pemimpin. Sabda Rasulullah Saw.: “Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya.” (HR. Bukhari).
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).
Walau demikian, jika pemimpin sudah melaksanakan amanahnya dengan baik sebagai pertanggung jawaban di sisi Allah dan rakyat. Dalam hadis lain disampaikan bahwa seorang yang meninggal karena penyakit tha’un dan yang semisalnya termasuk mati syahid. Sahabat Rasul pun ada yang terkena wabah yang menular dan mematikan, peristiwa itu terjadi di masa Umar saat akan ke Syam. Gubernur Syam kala itu, Ubaidah bin Al Jarrah wafat karena memilih untuk tetap tinggal di Syam bentuk tanggung jawabnya sebagai gubernur. Sementara Umar memilih kembali ke Madinah, berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.
Wafatnya Ubaidah bin Al Jarrah termasuk syahid berdasarkan hadis tersebut, selain itu karena wabah tersebut bagian dari kehendak Allah. Sebagaimana sebuah riwayat dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:”orang yang mati syahid ada lima macam, yaitu orang yang terkena thaun, orang yang mati karena sakit perut, korban tenggelam, korban yang tertiban reruntuhan, dan orang syahid di jalan Allah”. (HR Bukhari-Muslim).
Sebuah renungan bagi pemimpin negeri dan umat Islam khususnya, bisa jadi wabah ini teguran dan peringatan agar banyak mengingat-Nya dan mematuhi syariah-Nya. Wabah ini dari Allah menunjukkan kekuasaan Allah, makhluk mungil ini mampu meluluhlantakkan kesombongan manusia dengan sakit yang menyebabkan kematian.
Berdampak krisis bahkan resesi mematikan perekonomian suatu bangsa dan dunia. Maka secara logis dan akidah, solusinya tak lain kembali pada aturan Allah bukan yang lain. Sebagaimana yang sudah dicontohkan Baginda Nabi Saw. dan para sahabat dalam riwayat-riwayat menangani wabah.
Allahu A’lam Bi Ash Shawab.
(***)