KAB. SERANG – Teriknya matahari siang tak mampu mengikis semangat Sandi Pratama, pemuda 24 tahun asal Desa Karang Suraga, Kecamatan Cinangka. Di balik peluh yang mengalir dari keningnya, tersimpan harapan besar, rezeki untuk dibawa pulang kepada keluarga tercinta.
Dengan tumpukan ban dalam bekas mobil yang ia poles dengan cat warna-warni, Sandi menjajakan jasa sewa pelampung bagi wisatawan yang ingin bercengkerama dengan ombak Pantai Anyer.
Hari-hari libur Lebaran Idulfitri 1446 H menjadi musim panen bagi Sandi. Sejak fajar menyingsing, ia sudah bersiap. Ban pelampung dan papan seluncur ia susun rapi di bibir pantai, bukan sekadar menata barang, tetapi juga menata harapan agar banyak wisatawan yang tertarik untuk menyewa.
“Pagi sekitar jam 6 berangkat dari rumah, nyiapin ini (ban dan papan seluncur), siap-siap buat orang yang sewa,” tuturnya kepada BantenNews.co.id, Sabtu (5/4/2025), sambil menggenggam erat tali papan seluncur yang ia rawat sendiri.
Sapaan ramah menjadi jembatan antara dirinya dan wisatawan. Dengan senyum yang tak lekang meski tubuhnya diselimuti debu pasir dan keringat, Sandi menyambut setiap tamu yang datang ke lapaknya.
“Ya mau yang mana?” sapa Sandi sembari menawarkan pelampung dan papan seluncur dari tumpukan hasil keringatnya.
Tarif yang ia patok cukup bersahabat, menyesuaikan ukuran pelampung. “Mulai dari yang kecil berkisar Rp 15.000 ribu, ukuran (ban) sedang Rp 20.000 ribu, dan yang ukuran paling besar Rp. 30.000 ribu, bervariasi, dan harga sewa itu untuk sepuasnya selama berenang di Pantai,” jelasnya.
Seperti harapan yang ia titipkan pada debur ombak, libur panjang Lebaran membawa berkah tersendiri. Peningkatan jumlah wisatawan berbanding lurus dengan pendapatannya.
“Lagi momentum libur lebaran ini bisa naik (pendapatannya), walau jasa sewa per unit ban dan papan seluncur ada kenaikan, tapi pendapatan naik juga,” katanya.
Dengan anggukan kecil, ia mengungkapkan, “Hari biasa ga lebih dari Rp 500.000, tetapi sekarang (libur lebaran) bisa sampai 1 juta per harinya,” tegas Sandi.
Menjelang petang, langkah Sandi pulang ke rumah selalu diiringi rasa syukur meski tubuhnya lelah oleh terik dan angin laut.
Namun begitu, samar suara-suara dari tepian tak pernah benar-benar reda, menggema dalam irama khas wisata pantai.
“Perahu keliling, perahu keliling,” seruan itu menelusup di telinga para pengunjung.
Idoy, pengelola perahu wisata yang turut mengais rezeki dari geliat libur Lebaran, turut membagikan kisahnya.
“Ini perahu itungannya perorang, sekali berangkat bisa 10 orang, satu orangnya sepuluh ribu,” ucapnya sambil menatap ke arah laut.
Namun tak semua kisah serupa Sandi. Bagi Idoy, tahun ini terasa agak sepi. “Tapi tahun ini pendapatan kita menurun, mungkin dari jumlah wisatawan yang juga tidak seramai tahun kemarin jadi sebab pendapatan sewa Perahu kelilingi juga kurang dari tahun kemarin,” keluhnya.
Perahu yang ia kelola berkeliling di tepian pantai, ditarik oleh mesin, menyajikan sensasi berputar-putar di atas air laut yang memantulkan cahaya matahari.
“Keliling kita bisa memutar sekitaran tepi pantai, ditarik menggunakan mesin dan berputar-putar,” ujarnya.
Penulis: Rasyid
Editor: TB Ahmad Fauzi