
KAB. SERANG – Sehari menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Desa Tamansari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang menggelar tradisi tahunan yang unik dan penuh kebersamaan.
Ratusan warga dari berbagai penjuru, khususnya di Kecamatan Baros, berbondong-bondong menuju Situ Citaman untuk berburu ikan dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai “Marak.”
Sejak fajar menyingsing, sekitar pukul 06.00 WIB, warga telah bersiap dengan berbagai peralatan tangkap, mulai dari jaring, pancing, hingga serokan sederhana dari anyaman bambu dan kain.
Menjelang pukul 08.00 WIB, mereka serempak turun ke air, berlomba menangkap ikan dalam suasana penuh semangat dan keceriaan.
Setelah tiga jam berjuang di dalam air, menjelang pukul 11.00 WIB, para peserta mulai menghitung hasil tangkapan dan bergegas pulang, membawa pulang rezeki dari alam untuk dinikmati bersama keluarga.
“Iya, ini memang adat di Desa Tamansari. Setiap tahun, sehari sebelum puasa, kami menangkap ikan bersama. Tapi tahun ini ikannya agak sedikit, mungkin karena cuaca,” ujar Alex (17), seorang pemuda yang antusias mengikuti tradisi ini, Jumat (28/2/2025).
Menurut Alex, ikan yang ditangkap sebagian berasal dari bibit yang ditebar, sementara sebagian lainnya hidup alami di situ.
“Ada patin, nila, dan wader—atau kalau di sini disebut beunter. Biasanya, tangkap ikan seperti ini dilakukan sehari sebelum Ramadhan,” jelasnya.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang menangkap ikan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga. “Kami menyebutnya ‘Marak’, artinya menangkap ikan bersama-sama,” tambahnya.
Petugas Situ Citaman, Rohman (43) menuturkan bahwa selain menjadi tradisi tahunan, kegiatan ini juga berkaitan dengan perawatan situ.
“Setiap tiga bulan sekali, kami membersihkan lumpur di sini. Sedangkan ‘Marak’ ini, atau dalam bahasa Sunda disebut ‘Ngalaha’, menjadi momen bagi warga desa maupun pendatang untuk berkumpul,” katanya.
Selain menangkap ikan, kata Rohman, tradisi ini juga diawali dengan doa dan ziarah ke petilasan tokoh-tokoh leluhur, seperti Ratu Nyimas Gamparan, Nyimas Mayangsari, Ki Buyut Sangadeli, dan Ki Tubagus Irsyad.
“Sejak kecil saya tinggal di sini dan tahu betul, tradisi ini sudah turun-temurun, tidak berubah,” ungkap Rohman.
Situ Citaman sendiri memiliki nilai historis dan religius yang mendalam bagi masyarakat setempat. “Dulu, tempat ini juga dipakai untuk mandi dan mencuci. Airnya langsung dari sumber, bukan sungai biasa,” tambahnya.
Rohman berharap pemerintah atau pihak terkait dapat memberikan bantuan berupa benih ikan untuk melestarikan ekosistem situ.
“Kami butuh tambahan bibit ikan nila atau mas. Tahun ini, tangkapan terbesar mencapai dua kilogram, terdiri dari nila, patin, dan lele lokal,” tuturnya.
Bagi masyarakat Desa Taman Sari, Marak bukan sekadar berburu ikan, tetapi juga perayaan kebersamaan. Rusmiah (70), salah satu warga yang setia mengikuti tradisi ini, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Senang sekali, bisa kumpul keluarga. Setelah mencari ikan, kami memasaknya bersama,” katanya sembari tersenyum.
Dalam tradisi ini, hasil tangkapan biasanya dimasak langsung di lokasi.
“Ikannya enak sekali kalau dimasak dengan bumbu sederhana dan disantap beramai-ramai di atas daun pisang,” lanjutnya.
Untuk diketahui, hidangan khas yang menemani hasil tangkapan biasanya berupa nasi liwet, lalapan seperti daun pepaya, dan jantung pisang, menciptakan suasana akrab yang penuh kehangatan.
Bagi masyarakat Desa Taman Sari, Marak bukan sekadar ritual tahunan, tetapi cerminan nilai gotong royong dan penghormatan terhadap alam serta leluhur. Sebuah tradisi yang tak hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Penulis : Rasyid
Editor: Tb Moch. Ibnu Rushd