Beranda Pendidikan Kantor Bahasa Provinsi Banten Terbitkan 7 Buku Cerita Anak Dua Bahasa

Kantor Bahasa Provinsi Banten Terbitkan 7 Buku Cerita Anak Dua Bahasa

Lokakarya Kualitas Hasil Penerjemahan Cerita Anak. (IST)

SERANG – 29 Agustus 2022, Kantor Bahasa Provinsi Banten, UPT Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kemendikbudristek melalui Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Penerjemahan melaksanakan Lokakarya Kualitas Hasil Penerjemahan, Senin (29/8/2022).

Asep Juanda, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten mengatakan sebanyak 7 cerita rakyat diadaptasi menjadi cerita anak dalam dua bahasa. Harapannya, 7 buku cerita anak berbahasa Indonesia dan bahasa daerah Sunda serta Jawa Dialek Banten tersebut dapat memperkaya bahan bacaan bagi anak dan remaja, khususnya memperluas wawasan mengenai budaya Banten.

“Ketika seseorang mempelajari bahasa, ia juga mempelajari budayanya. Ketika seseorang mempelajari budaya, ia akan mempelajari bahasa dan sastranya. Semakin banyak karya sastra yang diterjemahkan baik itu ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing, semakin banyak juga orang yang akan mengetahui budaya kita,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, pelaksanaan lokakarya dengan melibatkan pakar dan praktisi terjemahan seperti Arip Sanjaya (Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) dan Tyas Tatanka (Rumah Dunia) merupakan salah satu bentuk komitmen Kantor Bahasa Provinsi Banten untuk menjamin kualitas terbitan terjemahan buku cerita anak.

Plt Sekdis Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Evi Syaefudin., menyambut baik upaya yang dilakukan Kantor Bahasa Provinsi Banten untuk menambah koleksi buku cerita anak dalam dua bahasa.

“Daftar koleksi di Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, terdapat sebanyak 3582 judul buku cerita anak, namun hampir tak ada yang berbahasa daerah. Apa yang tengah dilaksanakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten perlu diapresiasi karena merupakan langkah yang baik untuk bisa melestarikan bahasa sekaligus budaya masyarakat Banten,” ungkap Evi Syaefudin.

Ia juga menambahkan, selama ini penulis berbahasa daerah terhambat tuntutan industri yang mengukur untung rugi, semakin mempersempit ruang para penulis untuk berkarya dengan menggunakan bahasa daerah.

Baca Juga :  Kebebasan Beragama pada Masa Kesultanan Banten

Dalam kesempatan itu, sebanyak 27 peserta yang terdiri dari pemangku kebijakan, komunitas pegiat bahasa daerah, dan praktisi penerjemah hadir untuk memberikan masukan terhadap 7 cerita yang diterjemahkan.

“Masyarakat Banten yang majemuk memiliki kekayaan cerita rakyat yang belum banyak ditulis atau diinventarisasi. Hampir di setiap kesempatan, saya acap kali menemukan cerita rakyat yang ‘itu-itu saja’, semoga 7 cerita rakyat yang kelak diterbitkan ini akan menjadi sarana menginventarisasi cerita rakyat dan memperkaya bacaan bagi anak dan remaja. Semoga kedepannya kelak Banten juga akan memiliki perpustakaan khusus bagi anak dan remaja yang menyimpan kekayaan cerita anak dan cerita rakyat dari Banten,” tambah salah satu narasumber, Arip Senjaya. (Ink/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News