Beranda Pemerintahan Dukung Swasembada, BSIP Banten Diseminasikan GAP Perbenihan Padi dan Jagung

Dukung Swasembada, BSIP Banten Diseminasikan GAP Perbenihan Padi dan Jagung

BSIP saat melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penerapan standar pertanian.

LEBAK – Selama dua bulan berturut-turut Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) BSIP Banten telah selesai melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas penerapan standar pertanian di 9 titik lokasi di Kabupaten Lebak, Kamis (22/2/2024).

Total seluruh peserta kegiatan tersebut berjumlah sekitar 850 orang terdiri dari 600 orang petani, penyuluh, dan penangkar, serta sekitar 250 orang Babinsa. Peserta tersebut berasal dari seluruh wilayah di 28 Kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak.

Kepala BSIP Banten Ismatul Hidayah mengatakan, jika kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap program Kementerian Pertanian, yaitu Program UPSUS percepatan tanam dalam rangka peningkatan produksi padi dan jagung.

“Sasaran kegiatan ini adalah petani, penangkar dan seluruh penyuluh serta Babinsa se-Kabupaten Lebak,” kata Ismatul saat dihubungi BantenNews.co.id.

Ia mengungkapkan, bahwa swasembada ditargetkan akan tercapai pada tahun 2026 dengan jumlah 34 juta ton beras. Kegiatan penguatan kapasitas ini mendukung upaya swasembada tersebut. Berbagai program diupayakan Kementerian Pertanian dalam rangka peningkatan produksi untuk swasembada, antara lain Program IP400, Intensifikasi Pertanian, Perluasan Areal Tanam (Lahan Tidur), dan Perluasan Areal Pembukaan Lahan Baru serta program lainnya.

Agar program tepat sasaran, maka Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) harus sesuai dengan program yang dijalankan. “Melalui kegiatan ini, kita bersilaturahmi, saling sharing, dan bekerja sama untuk tingkatkan produksi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Rahmat menyampaikan, apresiasi kepada BSIP Banten atas pelaksanaan kegiatan ini, karena sangat berperan dalam meningkatkan pemahaman petani tentang standar budidaya padi dan jagung dengan baik.

“Semoga semua peserta dapat menerapkan ilmu yang diterima dengan baik di lapangan sehingga target yang diharapkan tercapai. Dalam setiap kegiatan di setiap titik lokasi, pihaknya juga menyampaikan tentang gambaran umum pertanian yang berada di Kabupaten Lebak sehingga petani, penangkar, penyuluh dan Babinsa memiliki gambaran yang utuh terhadap pelaksanaan kegiatan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tekan Pengangguran, Pemprov Banten Minta Kabupaten/Kota Aktifkan BLK

Ia menambahkan, selain penyampaian materi, dalam penguatan kapasitas ini juga dilakukan praktek penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) serta penggunaan Bagan Warna Daun (BWD).

“PUTS dan PUTK masing-masing berguna untuk menganalisa status hara tanah sawah (PUTS) dan tanah kering (PUTK), yang dapat digunakan di lapangan dengan cepat, murah dan cukup. PUTS mengukur status hara N, P, K dan pH tanah. PUTK mengukur status hara P, K, C-organik dan kebutuhan kapur tanah lahan kering. PUTK dirancang untuk tanah mineral, tidak direkomendasikan untuk tanah sulfat masam dan gambut. BWD digunakan untuk membantu menentukan kebutuhan hara tanaman,” ucapnya.

(San/Red)

Temukan Berita BantenNews.co.id di Google News